Ciamis sebagai salah satu kabupaten di provinsi Jawa Barat, letaknya di sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Majalengka dan Kabupaten Kuningan, sebelah Barat dengan Kabupaten Tasikmalaya dan Kota Tasikmalaya, sebelah Timur dengan Kota Banjar dan Propinsi Jawa Tengah, dan sebelah Selatan dengan Samudera Indonesia. Berdasarkan letak geogerafisnya Kabupaten Ciamis berada pada posisi strategis yang dilalui jalan Nasional lintas Provinsi Jawa Barat Provinsi Jawa Tengah dan jalan Provinsi lintas Ciamis – Cirebon – Jawa Tengah.
Di Ciamis terdapat banyak sekali wana wisata yang bisa dikunjungi bersama keluarga ataupun teman, jika kalian bingung untuk menentukan tempat wisata kalian, saya punya pilihan beberapa tempat wisata yang sayang kalau kalian tidak berkunjung ke tempat ini, diantaranya yaitu:
1. Mega Wisata Icakan



Wisata keliuarga icakan merupakan salah satu tempat rekreasi keluarga favorit di kabupaten ciamis. Karena waterboom berkelas Nasional ini sama besarnya dengan yang ada di kota-kota besar. Mega wisata Icakan ini mengusung tema keindahan alam yang sejuk dan jauh dari keramaian kota dan bisingnya suara mesin kendaraan. Terletak di kaki gunung api tua (gunung Syawal), tepatnya berada di salah satu lembahnya, membuat tempat wisata berenang keluarga ini memiliki udara yang sejuk dan pemandangan gunung syawal yang menarik. Tarif untuk masuk kawasan ini antara 10.000-25.000 per orang. Tersedia lahan parkir yang cukup luas, saung-saung botram khas sunda yang rindang (untuk tempat makan), kamar mandi umum, kolam ikan, sepeda bebek, fasilitas kolam renang dengan berbagai tingkt kedalaman,danau yang luas dengan ribuan koi, berbagai macam aktifitas yang menarik, unik, mengasikkan dan penuh dengan petualangan bagi anak-anak, remaja dan dewasa pun bisa anda rasakan di sini. dan tempat penjualan oleh-oleh. Hindari bekunjung disaat longweekend atau libur panjang, karena pengunjung tempat ini akan sangat membludak.
2. Situs Karangkamulyan
Situs Karangkamulyan adalah sebuah situs peninggalan Kerajaan Galuh. Situs ini terletak antara Ciamis dan Banjar, jaraknya sekitar 17 km ke arah timur dari kota Ciamis, tepatnya di Desa Karangkamulyan, Cijeungjing, Ciamis, Jawa Barat. Kata “karang kamulyan” sendiri berarti “tempat yang dimuliakan”.
Sekilas Tentang Kerajaan Galuh

Kerajaan Galuh adalah suatu kerajaan di Jawa Barat, yang wilayahnya terletak antara Sungai Citarum di sebelah barat dan Sungai Cipamali di sebelah timur. Kerajaan ini adalah penerus dari kerajaan Kendan, bawahan Tarumanagara. Sejarah mengenai Kerajaan Galuh ada pada naskah kuno Carita Parahiyangan, suatu naskah berbahasa Sunda yang ditulis pada awal abad ke-16. Dalam naskah tersebut, cerita mengenai Kerajaan Galuh dimulai waktu Rahiyangta ri Medangjati yang menjadi raja resi selama lima belas tahun. Selanjutnya, kekuasaan ini diwariskan kepada putranya di Galuh yaitu Sang Wretikandayun. Saat Linggawarman, raja Tarumanagara yang berkuasa dari tahun 666 meninggal dunia di tahun 669, kekuasaan Tarumanagara jatuh ke Tarusbawa, menantunya dari Sundapura, salah satu wilayah di bawah Tarumanagara. Karena Tarubawa memindahkan kekuasaan Tarumanagara ke Sundapura, pihak Galuh, dipimpin oleh Wretikandayun (berkuasa dari tahun 612), memilih untuk berdiri sebagai kerajaan mandiri. Adapun untuk berbagi wilayah, Galuh dan Sunda sepakat menjadikan Sungai Citarum sebagai batasnya.
Berikut peninggalan Kerajaan Galuh yang bisa ditemukan di Karangkamulyan (Nama-nama peninggalan di bawah ini merupakan pemberian dari masyarakat yang dihubungkan dengan kisah atau cerita tentang kerajaan Galuh):
Situs pertama yang akan kita lewati apabila kita masuk ke Cagar Budaya ini adalah Pelinggihan (Pangcalikan). Pelinggih merupakan sebuah batu bertingkat-tingkat berwarna putih serta berbentuk segi empat, termasuk ke dalam golongan / jenis yoni (tempat pemujaan) yang letaknya terbalik dan digunakan untuk altar. Di bawah Yoni terdapat beberapa buah batu kecil yang seolah-olah sebagai penyangga, sehingga memberi kesan seperti sebuah dolmen (kubur batu). Letaknya berada dalam sebuah struktur tembok yang lebarnya 17,5 x 5 meter.
Tempat yang disebut Sanghyang Bedil merupakan suatu ruangan yang dikelilingi tembok berukuran 6,20 x 6 meter. Tinggi tembok kurang lebih 80 cm. Pintu menghadap ke arah utara, di depan pintu masuk terdapat struktur batu yang berfungsi sebagai sekat. Di dalam ruangan ini terdapat dua buah menhir yang terletak di atas tanah, masing-masing berukuran 60 x 40 cm dan 20 x 8 cm. Bentuknya memperlihatkan tradisi megalitikum.
Tempat ini terletak di sebelah selatan Sanghyang Bedil. Masyarakat menganggap tempat ini merupakan tempat penyabungan ayam Ciung Wanara dan ayam raja. Di samping itu merupakan tempat khusus untuk memlih raja yang dilakukan dengan cara demokrasi. Masa kecil Ciung Wanara dibesarkan oleh kakeknya Aki Balangantrang. Setelah dewasa, Ciung Wanara dijodohkan dengan cicit Demunawan bernama Dewi Kancana Wangi, dan dikaruniai puteri yang bernama Purbasari yang menikah dengan Sang Manistri atau Lutung Kasarung. Dalam usahanya merebut kerajaan Galuh dari tangan Sang Tamperan, Ciung Wanara dibantu oleh kakeknya yaitu Aki Balangantrang yang mahir dalam urusan peperangan dan kenegaraan bersama pasukan Geger Sunten. Perebutan kerajaan ini konon tidak dilakukan dengan peperangan, tapi melalui permainan sabung ayam yang menjadi kegemaran raja dan masyarakat pada saat itu. Ciung Wanara memenangkan permainan ini dengan mudah.
Ciung Wanara memerintah selama 44 tahun (739-783 Masehi), dengan wilayah dari Banyumas sampai dengan Citarum, selanjutnya setalah Ciung Wanara melakukan manurajasuniya (mengakhiri hidup dengan bertapa), maka selanjutnya kerajaan Galuh dipimpin oleh Sang Manistri atau Lutung Kasarung, menantunya. Ciung Wanara disebut juga Sang Manarah, atau Prabu Suratama, atau Prabu Jayaprakasa Mandaleswara Salakabuwana.
Batu yang disebut sebagai lambang peribadatan merupakan sebagian dari kemuncak, tetapi ada juga yang menyebutnya sebagai fragmen candi, masyarakat menyebutnya sebagai stupa. Bentuknya indah karena dihiasi oleh pahatan-pahatan sederhana yang merupakan peninggalan Hindu. Letak batu ini berada di dalam struktur tembok yang berukuran 3 x 3 x 0.6 m. Di tempat ini terdapat dua unsur budaya yang berlainan yaitu adanya kemuncak dan struktur tembok.
Struktur tembok yang tersusun rapi menunjukkan lapisan budaya megalitik, sedangkan kemuncak merupakan peninggalan agama Hindu. Masyarakat menyebutnya sebagai lambang peribadatan atau lambang keagamaan, karena dilihat dari bentuknya yang mirip dengan stupa.
Di lokasi ini tidak terdapat tanda-tanda adanya peninggalan arkeologis. Tetapi hanya merupakan sebuah sumur yang letaknya dekat dengan pertemuan antara dua sungai, yaitu sungai Citanduy dan sungai Cimuntur. Sumur ini disebut Cikahuripan yang berisi air kehidupan. Sumur ini merupakan sumur abadi karena airnya tidak pernah kering sepanjang tahun.
Di lokasi makam Dipati Panaekan ini tidak terdapat tanda-tanda adanya peninggalan arkeologis. Tetapi merupakan batu yang berbentuk lingkaran bersusun tiga. Siapa itu Dipati Panaekan? Dipati Panaekan adalah putra kedua dari Cipta Permana (Prabu di Galuh) Raja Galuh Gara Tengah, ia wafat karena dibunuh oleh adik iparnya sendiri yang bernama Dipati Kertabumi (Singaperbangsa I) karena perselisihan paham dalam rangka penyerbuan Belanda ke Batavia dimana Panaekan condong ke pendapat Dipati Ukur sedangkan Singaperbangsa condong ke pendapat Rangga Gempol. Setelah dibunuh, jasadnya dihanyutkan ke Cimuntur dan diangkat lagi dipertemuan Sungai Cimuntur dan Sungai Citanduy lalu dikuburkan di Karang Kamulyan.
- Pertemuan dua sungai besar
Di bagian belakang situs ini, kita bisa melihat pertemuan dua sungai besar, yaitu Sungai Cimuntur dan Sungai Citanduy. Menurut juru kunci Karangkamulyan, Endan Sumarsana, didaerah karangkamulyan ini juga terdapat sebuah ”highway” Padjajaran atau disebut juga jalan raya yang menghubungkan Padjajaran dengan daerah-daerah disekitarnya. Jalan raya ini dimulai dari pusat kerajaan Padjajaran, kemudian ke Cileungsi, Cibarusa, Warunggede, Tanjung Pura, Karawang, Ciakao, Purwakarta, Sagalaherang, Sumedanglarang, Tomo, Sindangkasih, Rajagaluh, Talaga, Kawali, dan berakhir di Karangkamulyan. Sekarang sisa dari jalan raya ini tidak dapat kita lihat karena sudah berubah menjadi pemukiman penduduk.
3. Curug Tujuh
Nama lain dari Curug Cibolang adalah Curug Tujuh. Sesuai dengan namanya curug ini mempunyai 7 (tujuh) buah air terjun (curug) yang tersebar dan tidak berjauhan letaknya. Bahkan curug 4 dan 5 letaknya berdampingan hanya terpisah kurang lebih 2 meter jaraknya, sehingga dengan demikian untuk dapat menikmati keindahan dan keasrian ketujuh air terjun tersebut, adalah dengan cara mengitari bukit, menapaki jalan setapak mulai dari kaki ke puncak bukit dan kembali lagi. Setiap curug ini memiliki nama yaitu, Curug Satu, Curug Dua, Curug Tiga, Curug Cibolang, Curug Cimantaja, Curug Cileutik dan Curug Cibuluh. Ketujuh curug ini mengalirkan air ke sungai Cibolang dan Cimantaja.
Curug ini berada di dalam Kawasan Wana Wisata Curug Tujuh di RPH Panjalu BKPH Ciamis KPH Ciamis, dengan luas sekitar 40 ha yang dikelilingi Bukit Ciparang dan Cibolang di kaki Gunung Sawal. Kawasan ini terletak pada ketinggian antara 800-900 m dpl dengan suhu udara berkisar 17-18C. Keberadaan Curug ini mempunyai kelebihan jika dibandingkan dengan kebanyakan air terjun lain pada umumnya, karena air terjun ini tidak pernah surut sekalipun di musim kemarau, dan air yang mengalir mengandung unsur belerang yang berkhasiat untuk penyembuhan beberapa penyakit.
Legenda
Sumber air curug ini berasal air Cimantaja yang menurut mitos bahwa cimantaja yang berarti air mata raja. Konon dahulu kala ada sorang penguasa atau raja yang pada suatu waktu merasa sangat prihatin melihat keadaan diwilayahnya akibat kemarau panjang. Air tidak ada dan tanah kering kerontang, sehingga rakyatnya dirundung sengsara berkepanjangan. Sang raja kemudian bertapa untuk memohon supaya diturunkan hujan agar keadaan negerinya pulih seperti sedia kala. Namun usahanya itu tidak mendapat jawaban dari pernguasa alam. Karena tak membuahkan hasil hati sang raja merasa sedih dan kesedihannya itu membuat sang raja menangis. Saat itulah keajaiban terjadi, air mata raja yang terus turun perlahan-lahan berubah menjadi genangan air jernih dan semakin membesar sehingga membentuk aliran air yang akhirnya terpecah dan jatuh di tujuh buah tebing. Berkat air curug tersebut keadaan negara pun kembali sejahtera. Setelah membeli karcis dan masuk pintu di pintu gerbang langsung akan ditemui jalan setapak berbatu yang menanjak dengan bentuk tangga. Kemiringan jalan ini mencapai hampir 45 derajat. Di ujung tangga ini akan ditemui percaangan jalan dengan papan petunjuk lokasi curug Cibolang berada. Untuk curug satu hingga lima ke arah kanan sedangkan curug enam dan tujuh ke arah kiri.
Kita mulai dari curug satu, dari tempat petunjuk arah tadi kita harus berjalan lagi sekitar 5 menit jarak yang harus ditempuh antara curug satu dengan yang lainnya, kecuali curug satu & dua dan Curug empat & Curug lima karena berdekatan lokasinya. Curug satu adalah curug yang paling besar dengan ketinggian hampir mencapai 120 meter dengan lebar sekitar 15-20 meter dan disisi kirinya terdapat tebing datar, sedangkan lokasi curug dua berada dibawahnya tapi menurut saya sih ga terlalu keliatan curug ke-2 ini.
Untuk menuju curug selanjutnya kita harus melewati curug satu jadi mau ga mau kita akan merasakan segarnya air curug dan bagi yang mau berendam atau dipijat oleh jatuhan air bisa juga. Dan konon kabarnya di salah satu curug ini ada yang yang mempunyai khasiat untuk menyembuhkan berbagai penyakit kulit. ”Karena air terjun yang mengalir berasal dari kawah Gunung Sawal diketahui mengandung belerang.
Selanjutnya kita akan mengunjungi curug tiga sampai lima. Dua curug pertama yang akan kita jumpai selanjutnya adalah curug empat (Curug cibolang), loh kenapa curug tiganya dilewat? Bukan dilewat sih tapi Karena memang posisi curugnya yang berjajar dari curug tiga sampai lima dan posisi curug tiga ini berada di atas curug empat, sedangkan curug lima berada dibawahnya curug empat seperti curug satu & dua yang lokasinya berdekatan.
Curug keempat (Curug Cibolang) mempunyai ketinggian sekitar 30-50 meter dengan lebar kira-kira 5 m, namun yang menjadi cirinya adalah curug ini bertingkat walaupun tingkatannya pendek. Selanjutnya Curug kelima atau Curug Cimantaja, terletak di bawah curug keempat, disebut demikian konon katanya berasal dari kata Cimata Raja atau air mata Raja, posisinya mirip dengan curug kedua yang berada dibawah dan tidak terlihat.
Selanjutnya ke curug ketiga, terletak di atas curug keempat, dengan kondisi jalan sedikit menanjak. Di curug ini kondisinya hampir sama dengan curug keempat, namun yang membedakan disini terdapat banyak batu-batuan dan rimbunnya pohon, selain itu seringkali terlihat pelangi di curug ini.
Selanjutnya curug keenam (Curug Cileutik) dan ketujuh (Curug Cibuluh) memiliki ketinggian tidak terlalu tinggi, hanya sekitar 30 m saja. Untuk kondisi jalan menuju kesana sangat licin dan cukup berbahaya, disarankan untuk tidak kesana bila kurang berpengalaman. Setelah melakukan perjalanan beberapa menit menyusuri jalan setapak tibalah di curug keenam yang berbentuk menyerupai huruf S. Adapun letak curug ketujuh berada di bawah curug keenam. Di curug ketujuh ini terdapat kolam kecil berukuran 3 m berbentuk setengah lingkaran dengan airnya berwarna kehijauan.
Tak jauh dari curug keenam dan ketujuh ini terdapat lokasi wisata berupa Batu Kereta Api. Disebut demikian karena memang bentuk batunya yang besar-besar seperti gerbong kereta dan berjejer kebelakang sebanyak 12 buah. Sayangnya untuk mencapai lokasi ini cukup sulit karena kondisi jalannya yang masih berupa tanah merah serta harus dipandu penduduk setempat karena memang terpencil letaknya.
4. Situ Panjalu
Situ Panjalu Atau Situ Lengkong Panjalu Merupakan Sebuah Danau Seluas 57,95 Hektar Yang Berada di Desa Panjalu, Kecamatan Panjalu, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, Indonesia.
Pada awal Maret 2004 lalu, Desa Panjalu di tetapkan menjadi salah satu kawasan objek wisata oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Hal itu merupakan apresiasi pemerintah terhadap daerah berpotensi dan keturutsertaan pemerintah menjaga kebudayaan suatu daerah. Situ panjalu merupakan salah satu Kawasan Objek Wisata Religi yang di padukan dengan kawasan cagar alam dan pemandangan yang asri. Selain itu, adanya adanya pulau di tengah danau atau masarakat panjalu menyebutnya ( Nusa ) dan salah satu adat kebudayaan seperti Upcara Nyangku di kawasan ini menjadi salah satu Daya tarik tersendiri untuk para pengunjung.
Ringkasan Sejarah Keberadaan Situ Lengkong Panjalu.
Menurut cerita sejarah panjalu, sekitar abad ke VII salah satu leluhur daerah panjalu bernama Prabu Sanghyang Borosngora yaitu putra dari Raja Panjalu yakni Prabu Sanghyang Cakra Dewa berkelana dengan tujuan untuk mencari ilmu pengetahuan yang sempurna dan bermanfaat untuk orang banyak atau rakyatnya, sehingga sampailah di suatu tempat yang cukup gersang dan penuh dengan bebatuan. ternyata tanah yang di injaknya itu adalah tanah suci mekah. disanalah beliau belajar dan beroleh ilmu sejati yakni islam yaitu ilmu yang membawa keselamatan dunia dan akhirat. stelah Prabu Sanghyang Borosngora menguasai ilmu tersebut dengan sempurna, beliau pulang kembali ke panjalu dengan membawa oleh oleh dari gurunya yakni Baginda Ali r,a. sahabat Nabi besar kita Muhammad SAW. Oleh oleh tersebut berupa pakaian kehajian ( pakaian kesultanan pada masa itu ), serta air zam zam yang dibawanya pada sebuah gayung yang permukaanya bolong bolong pemberian ayahnya Prabu Sanghyang Cakra Dewa. Dengan izin yang maha kuasa, ia dapat membawa air zm zam tersebut ketempat asal beliau yakni panjalu. setibanya di panjalu di tumpahkanya air zam zam tersebut di sebuah tempat yakni Pasir Jambu. dengan izin Allah swt, air zam zam tersebut kemudian bertambah banyak dan berubah menjadi sebuah danau yag kita kenal yakni Situ Lengkong Panjalu. Ditengah danau terdapat sebuah pulau kecil yang di beri nama Nusa Gede, dan hingga kini diyakini bahwa situ panjalu terjadi karna tumpahan air zam zam yang di bawa Prabu Sanghyang Borosngora.
Warisan Budaya Upacara Adat NYANGKU Di Panjalu.
Di kawasan wisata Situ lengkong Panjalu ini memiliki sebuah tradisi yang hingga kini masih selalu di jaga oleh masarakat panjalu yakni Upacara Adat Nyangku. Upacara Adat Nyangku adalah suatu rangkaian prosesi adat penyucian benda benda pusaka peninggalan Prabu Sanghyang Borosngora dan para Raja serta Bupati kerajaan panjalu yang tersimpan dan terjaga rapi di pesucian Bumi alit. Kata Nyangku ini memiliki arti luas yaitu “Nyaangan Laku” ( menerangi perilaku ). Kalimat pendek itu di Manifeskan masarakat panjalu dalam sebuah upacara adat yang sakral dan unik. Upacara Adat Nyangku ini biasanya di adakan setiap satu tahun sekali, tepatnya pada bulan Maulud dalam kalender islam pada hari senin atau hari kamis di akhir bulan Maulud. Pada prosesi ini, benda benda pusaka itu di keluarkan dari tempat penyimpananya lalu di kirabkan menuju Nusa Larang situ lengkong panjalu. Sesampainya di Nusa Larang, arak arakan berhenti untuk menbacakan do’a. setelah iu bebda pusaka itu di arak kembali dengan sangat hati hati ke tempat upacara dengan diiringi tetabuhan Gembyung dan teriakan Solawat. Puncak acara ritual ini dan sekaligus paling dinantikan para pengunjung yakni membersihkan benda pusaka dengan air yang di ambil dari 9 mata air yang berbeda dan di ambil dari daerah berbeda pula. dimulai dari pedang Prabu sanghyang borosngora dan di lanjutkan dengan pusaka lainya.proses pencucian benda pusaka dilakukan di atas panggung bambu yang di buat husus untuk mencuci benda pusaka.
Pusaka Peninggalan Kerajaan Panjalu
Pada tahap akhir setelah benda pusaka di cuci dan di olesi miyak kelapa asli yang di buat husus untuk ritual ini, kemudian di bungkus kembali dengan cara melilitkan janur atau daun kelapa muda kemudian di bungkus kembali dengan 7 lapis kain putih dan di ikat dengan kain putih, setelah itu dilanjut dengan mengeringkan benda pusaka dengan asap kemenyan dan di arak kembali untuk di simpan ke tempat penyimpanannya yakni Bumi Aliit.Tradisi Nyanku ini konon telah dilaksanakan sejak jaman pemerintahan Prabu Sanghyang Borosngora di kerajaan panjalu. Sang Prabu menjadikan prosesi ini sebagai salah satu Syiar Islam bagi rakyat panjalu dan sekitarnya.
Berlayar Di Situ Panjalu
Selain Wisata Religi dan Tradisi adat atau Budaya yang sangat unik, di Kawasan Wisata Situ Panjalu juga trdapat sarana hiburan keluarga seperti Berperahu mengelilingi Pulau kecil di tengah danau, belanja aneka kerajinan tangan dan mencicipi makanan Khas Panjalu. Jadi buat anda yang hobi Traveling atau jalan jalan, jangan lupa sempatkan mampir ke Kawasan Wisata Situ Lengkon Panjalu.